Menata Hati dengan Cinta Jauh dari Kegalauan

oleh Wanodya Asri

Kita mudah galau karena kita tidak memegang suatu prinsip, yaitu “tidak ada di hati ku selain ALLAH”. Jika kita teguh untuk memegang prinsip ini, maka hati akan menjadi tenang. Jika ada di hatinya ALLAH dan selain ALLAH (meskipun hanya satu), maka itu sudah dapat membuat hati menjadi tidak tenang. Orang yang di hatinya hanya ada ALLAH, masih mungkin merasakan SEBENARNYA CINTA (bukan CINTA yang SEBENARNYA). Karena cinta yang sebenarnya bersifat relative, sedangkan SEBENARNYA CINTA adalah cinta yang di dalamnya hanya bersemayam nama ALLAH.

 

Lalu, bagaimana kita merancang agar di dalam hidup kita tidak ada selain ALLAH??

 

SEBENARNYA CINTA akan terasa kesejukkannya pada saat kebeningan hati bertemu dengan kelezatan nafsu. Ke dalam diri manusia, ALLAH meletakkan 2 bejana, yaitu bejana hati dan bejana nafsu. Layaknya bejana dalam kehidupan kita, maka yang seharusnya dimasukkan ke dalam bejana adalah hal2 yang sesuai dengan fungsi bejana tersebut. Namun, sering manusia salah meletakkan sesuatu yang seharusnya masuk ke bejana nafsu tetapi dimasukkan ke dalam bejana hati. Misalnya, cinta itu letaknya di dalam nafsu, bukan di dalam hati. Dan begitu pula dengan benci. Seperti analogi STMJ (susu, telur, madu, dan jahe) tidak akan terasa enak dimakan jika tidak dicampur dengan air dan di aduk. Begitu pula dengan nafsu, akan terasa kelezatannya ketika dicampur dengan isi bejana hati. Dan ketika kebeningan hati bercampur dengan nafsu, maka yang akan muncul adalah NAFSU MUTMAINNAH. Maka kita akan mampu memegang prinsip “tidak ada di hatiku selain ALLAH”.

Bejana nafsu berisi segala jenis perasaan, seperti susah, senang, benci, cinta, takut, berani, dsj. Dari nafsu ini, akan menimbulkan keinginan. Dan dari keinginan akan mendorong munculnya perbuatan. Bejana hati hanya berisi 3 hal, yaitu BENAR, BAIK, dan MULIA. Jika isi bejana hati ini dituangkan ke dalam bejana nafsu, maka pasti isinya akan bercampur.

BENAR (menurut hati) berarti sesuai dengan keinginan Allah ta’ala…

BAIK berarti membaikkan perasaan orang kepada diri. Orang baik bukan hanya orang yang mampu berbuat baik, tetapi juga mampu membaikan perasaan orang lain kepada dirinya. Misalnya, seorang anak yang tetap berbakti kepada kedua orang tuanya walaupun kedua orangtuanya adalah tipe yang “menyebalkan”….

MULIA berarti mengangkat nilai diri. Nilai kemuliaan itu sangat tinggi, tidak dapat diukur. Nilai kemuliaan ini sangan berhubungan dengan nilai kebenaran dan kebaikan di dalam hati. Sehingga ke3 hal tersebut pada dasarnya saling “bersenyawa” (menyatu dan bercampur), bukan terpisah.

Maka sudahkah ke3 hal tersebut bersenyawa dalam hidup kita??

Ketika isi 2 bejana (hati dan nafsu) saling bercampur, maka yang akan muncul adalah keinginan dan perbuatan yang BAIK, BENAR, dan MULIA.

Lalu seperti apa cinta yang BAIK, BENAR, dan MULIA itu??

Cinta yang benar cinta yang sesuai dengan keinginan ALLAH Ta’ala.

 

Kriteria cinta yang benar:

1. Tidak mencintai karena penampilan fisik. Karena jika mencintai penampilan fisik, berarti dia sedang mencintai dirinya sendiri.

2. Tidak membeda-bedakan cinta. Kalau membedakan berarti nafsu. Misal, tidak mencintai si A lebih dari si B, kadar cintanya sama.

3. Tidak ada harapan untuk memiliki.

4. Tidak ada cinta dalam dan untuk kemungkaran. Salah satu contoh yang dapat menyebabkan munculnya kemungkaran : seorang ikhwan yang “ng-take” akhwat dan menjanjikan untuk menikahinya, tetapi akhwat tersebut diminta untuk menunggu.

 

Kriteria cinta yang baik:

1. Tidak menimbulkan dampak negatif. Misal VMJ, berkhayal, dsj.

2. Menjadi energi penyemangat untuk melipatgandakan ibadah dan amal shalih.

3. Membuat diri luluh dalam kebeningan dan kesucian cinta.

 

Kriteria cinta yang mulia:

1. Menyejukkan hati siapapun.

2. Tidak menggejolakkan nafsu orang lain.

3. Menginspirasikan kebaikkan untuk sesama

4. Menjadi contoh teladan bagi siapapun yang menginginkan sebenarnya cinta.

 

Catatan kajian bersama Ust.Syatori @ KRPH Mardhiyyah (5 November 2011)